Mengoreksi serta Merekonstruksi Arah diskusi tentang Ketuhanan

Berawal dari sebuah diskusi di group, dimana diskusi itu telah membuat saya bernostalgia dengan apa yang didiskusikan dulu atau apa yang saya perdebatkan pada masa-masa kuliah dan berorganisasi. Hal itu dapat terjadi ketika saya melihat di salah satu group WhatsApp saya, para anggota group lainnya sementara mendiskusikan tentang Ketuhanan dengan tema ( Diskusi Bersama : Wajah Tuhan dalam pandangan agama-agama di dunia) yang diakhiri dengan kalimat-kalimat yang secara implisit menunjukkan kita cukup tahu masing-masing wajah Tuhan tanpa menelisik kesamaan maupun kekurangan wajah Tuhan didalam agama-agama tersebut. 

Sejujurnya, saya sebenarnya ingin ikut dalam diskusi itu, namun sayangnya saya terlambat karena yang saya lihat adalah hasil Chattingan sehari sebelumnya. Kenapa bisa demikian, semua itu dapat terjadi karena saya tinggal di pedesaan yang akses jaringan telepon dan internet sangatlah tidak begitu mendukung. Sehingga untuk bisa mendapatkan informasi tepat waktu saya harus pergi ke kota yang berjarak sekitar 5-7 kilometer dari Desa saya tinggal.

Menyambung dari diskusi di atas, setelah saya berhasil membaca alur diskusi itu, saya menemukan sandungan kekecewaan karena diskusi tidaklah begitu radikal karena tidak setajam tema yang diangkat. Pada akhirnya, saya hanya bisa mengutarakan isi hati dan isi kepala yang kesal ini pada lembaran-lembaran blog ini. 

Menurut saya yang menarik untuk didiskusikan tentang Tuhan adalah kesamaan atau kekurangan wajah Tuhan di antara agama-agama dunia, karena bila hanya membahas wajah Tuhan dalam pandangan agama-agama di dunia maka yang ada adalah diskursus itu bersifat statis, dimana hanya akan berakhir pada konsensus masing-masing agama atau Akibatnya kesimpulan yang dihasilkan ialah kembali pada individu atau keyakinan masing-masing. 

Padahal diskusi seharusnya bertugas mengoreksi secara radikal kemudian berupaya melahirkan satu solusi, satu sepemahaman dengan latar belakang pemikiran radikal itu. Menurut saya, jika diskusi hanya sampai pada tahap mengenal, maka tidak perlu melakukan sebuah diskusi bersama bila tidak sampai pada tahap mengoreksi dan mengkritisi sebagai sifat dari diskusi. Maka seharusnya yang dilakukan adalah membaca bersama bukan diskusi bersama.

Nah, berkaitan dengan kesamaan wajah Tuhan, dapat dilihat pada pesan yang ingin disampaikan, dimana semua jenis Tuhan ingin diakui keberadaannya, semua Tuhan menginginkan keEsaan-nya dan semua Tuhan ingin di sembah sebagai bukti ketundukan kepada Tuhan. 

Namun, untuk membuat pembenaran atas Tuhan-Tuhan itu maka menurut saya kita harus berani bertanya lebih kritis. Benarkah Tuhan itu bisa di yakini? Apakah sebagian besar Tuhan agama-agama itu telah melewati proses pembuktian yang kritis?. Apakah Tuhan-Tuhan itu bisa mempertahankan superiornya dihadapan akal manusia?

Tentu ini merupakan pertanyaan-pertanyaan yang harus di Carikan jawabannya oleh si pendiskusi. Tentunya diskusi ini juga mengharuskan ketidakberpihakan pada satu agama melainkan yang harus ditonjolkan adalah keberpihakan pada kebenaran, kebenaran dengan dalil-dalil logika yang menilai kelayakan serta kesesuaian Tuhan mana yang harus disembah.

Atau paling tidak para pendiskusi mempertanyakan apakah para pembawa pesan Tuhan (nabi/dewa) masing-masing agama itu atau yang paling simpel adalah mempertanyakan kitab-kitab Tuhan mana yang masih original dan masih relevan dengan perkembangan zaman sekarang. Bukankah itu lebih menarik dan tajam?


Terakhir, Saya pada dasarnya tidak berupaya mengkerdilkan mereka yang berdiskusi tentang Tuhan di group Watshap itu, namun sedikit berupaya memberi kesempatan untuk merubah arah diskusi yang lebih radikal untuk mencapai sebuah kebenaran, lebih tepatnya merekonstruksi metode diskusi. Bukan pula saya ingin membela kerukunan umat beragama, akan tetapi mencoba merangsang sebuah persatuan dalam pemahaman agama. Terima kasih

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel