Sebuah Perenungan, Bersabar dan Bersyukur

Sebuah Perenungan, Bersabar dan Bersyukur Kehidupan manusia - Manusia pada dasarnya makhluk yang sempurna secara proses penciptaan selain makhluk-makhluk ciptaan lain di muka bumi ini karena dibekali akal untuk berpikir dan memilih dalam kehidupannya. Namun kebanyakan manusia setelah menyelami proses kehidupan dunia yang setiap sudutnya memiliki tekanan tersendiri ini, maka membuat sebagian manusia merasa bahwa dirinya terzalimi sehingga yang ada hanyalah mengeluh, menyalahi dan bahkan menghardik Tuhan.

Padahal mereka tidak terlahir dengan ketidaksempurnaan fisik "cacat" sebagai manusia ditengah-tengah sebagian lainnya yang mengalami kecacatan. Maka jika seorang hidup dalam dunia ini sebagai manusia normal, maka tidak ada alasan lain bagi seseorang untuk tidak bersyukur kepada Sang Maha Pencipta.

Betapa banyaknya manusia di luar sana yang terlahir sebagai sosok manusia tanpa kesempurnaan fisik hingga menyebabkan mereka mempunyai keterbatasan dalam bergerak untuk menjalani kehidupan mereka. Bayangkan betapa berat beban yang dihadapi oleh mereka, tidak banyak yang menyadari bahwa sebenarnya mereka ialah manusia yang berpotensi memiliki beban psikis yang besar karena kondisi yang dialami ketimbang kita yang sempurna secara fisik.

Andaikan mereka dapat merubah kondisi fisiknya maka secepat kilat mereka ingin berlari dari kenyataan hidupnya itu. Berbicara terkait cacat fisik yang dialami oleh manusia. Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi terjadi demikian, seperti akibat kecelakaan, genetik atau keturunan. Dimana biasanya akibat pertumbuhan janin dalam kandungan tersebut mengalami mutasi genetik yang disebabkan oleh pengaruh senjata kimia dan lain sebagainya.

Kondisi cacat fisik seperti ini sudah dialami oleh manusia sejak dahulu kala atau para penghuni bumi di zaman dulu, mereka tentu berkeluh kesah namun tidak juga menghardik dirinya sendiri, sepanjang yang terlihat kebanyakan berupaya mendapati apa yang diinginkan sebisanya. Bentuk motivasi diri selalu terdedikasi bagi diri mereka.

Lalu apa yang membuat mereka yang memiliki keterbatasan bisa melewatinya ? Salah satu yang saya ketahui melalui pengalaman pribadi ialah kegigihan dan ketekunan serta rasa sabar dan syukur yang menjadi pedoman hidup orang-orang yang cacat fisik.

Sebaliknya timbul pertanyaan bagi kita yang secara fisik sempurna, sudahkah kita mencoba menyadari dan bersyukur atas kelebihan pemberian Tuhan. Memang jelas secara manusiawi, manusia pasti berkeluh kesah dalam kehidupannya bila mendapatkan beban hidup yang berat namun menurut saya mengelu akan persoalan fisik semestinya tidak harus dilakukan.

Dewasa kini sebagian manusia lebih memilih mempercantik diri, memperbagus diri dengan cara yang mengejutkan seperti operasi plastik (OPLAS) atau sulam alis. Jelas bila secara hak dan peraturan tidaklah melarang, namun semua itu berpontensi merusak diri sendiri. Artinya tidak bersyukur atau dengan kata lain tidak menyadari bahwa ada yang lebih kurang di sekitarnya.

Semua pemberian Tuhan tentu punya tujuan dan makna tersendiri, termasuk dalam persoalan kecacatan fisik maupun kesempurnaan fisik. Sekiranya tujuan yang dapat dipetik ialah kesadaran bahwa manusia yang terbaik di mata Tuhan bukanlah mereka yang sempurna fisiknya atau mereka yang cacat fisiknya, melainkan mereka yang bersyukur dan berserah diri serta beramal saleh.

Selebihnya dengan bersabar da bersyukur, manusia dapat tenang menjalani hidupnya sekalipun dalam keadaan keterbatasan fisik, dan dengan bersabar dan bersyukur manusia dapat menghargai atau mengapresiasi makna dibalik kekurangan dan kelebihan yang diberikan.


Sekapur siri. Saya menuliskan tema ini karena melihat seorang disabilitas yang bekerja dengan kedua kakinya, sebab kedua tangannya tidak ada. Terima kasih

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel