Pemikiran Henri Bergson Tentang Moral dan Agama

Pemikiran Henri Bergson Tentang Moral dan Agama - Henri Bergson adalah seorang Filsuf Prancis yang lahir pada 8 Oktober 1859 dan meninggal pada Januari 1941, dalam usia 81 tahun. Sebagian besar hidupnya di habiskan dengan mengajarkan filsafat dan menjadi seorang penulis yang produktif dan kreatif sampai-sampai dirinya pernah memperoleh Nobel Sastra pada tahun 1927

Henri Bergson dikenal sebagai Tokoh utama Aliran Filsafat Hidup. Hendri Bergson pada awalnya belajar matematika dan fisika karena Bergson memiliki kecerdasan dalam menganalisis. Namun muncul problem baru dalam pemikirannya, dimana ia kebingungan ketika diperhadapkan pada persoalan metafisika yang tidak nampak "terlihat" dan keberadaan tidak berada dalam wilayah kepercayaan ilmu pengetahuan. Alasan inilah yang mendasari Bergson terjun kedalam bidang filsafat yang kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran kefilsafatan nya.

Salah satu buah pemikiran filsafat Bergson yang diungkapkan sebagai sebuah reaksi atas positivisme, materialisme dan subjektivisme ialah bahwa 'alam semesta ini merupakan suatu organisme yang kreatif, tetapi perkembangannya tidak sesuai dengan implikasi logis. Perkembangannya seperti meletup-meletup dalam keadaan tidak sama sehingga melahirkan akibat-akibat dengan spektrum yang baru'.

Filsafat Bergson berangkat dari pembedaan fundamental antara daya hidup (Elan Vital) dan materi yang merupakan dua implus semesta yang bertentangan. Dimana yang satu adalah sebuah dorongan untuk terus berkreasi dan mendiversifikasi. yang kedua, adalah kompulsi entropik untuk membuat segala sesuatunya seragam.

Dua perihal yang saling bertentangan ini dapat dilihat dalam teori pengetahuan dari Bergson, menurutnya hanya intelek yang bisa membaca fluktuasi pengalaman dalam bentuk butir-butir pengamatan yang khas, unik. Prestasi terbesar yang diraihnya ialah dalam bidang geometri, dimana ia menolak arus pengalaman yang terus menerus dengan berusaha untuk mengetahui realitas dengan cara mengidentifikasi dan mengklasifikasikan pengalaman kedalam unit-unit berbeda yang dapat diulangi. Perbedaan dari pendapat di atas ialah Naluri atau Insting. 

Dimana insting adalah daya kreatif yang kurang sejalan dengan ruang daripada waktu karena suksesi adalah sebuah karakteristik pengalaman dan daya kreatif selalu memiliki kualitas serta selalu terus menerus hadir tanpa dibuat-buat.

Bergson juga terkenal dengan pemikirannya terkait moral dan agama, yang diuraikan secara satu-persatu perbedaan dari keduanya, dimana menurutnya moral terbagi menjadi dua. yakni moral terbuka dan moral tertutup, masyarakat terbuka dan masyarakat tertutup. Demikian juga Agama dibedakan menjadi dua, agama statis dan agama dinamis.

Terkait moral tertutup dalam pengertian Bergson adalah tampilan masyarakat yang tertutup. Masyarakat yang tertutup tidak disebabkan karena keterbatasan akan ruang, bukan juga karena masyarakat itu meliputi sebagian saja dari umat manusia, melainkan dikuasai oleh hanya suatu moral yang berlaku pada warga masyarakat disuatu wilayah tertentu dan tidak berlaku terhadap masyarakat diluar wilayah tersebut. Dengan kata lain menurut Bergson, suatu moral yang tertutup memiliki prinsip dasar yang berbentuk kerukunan didalam kelompok dan permusuhan diluar.

Selebihnya terkait moral terbuka menurut Bergson, memiliki peran sebagai penengah antara dua moral tersebut. Artinya rasio manusia bisa berperan sebagai penengah antara dua moral tersebut. Sebab rasio dapat menemukan dan mengemukakan unsur-unsur universalitas dalam suasana moral tertutup dan juga pada suasana moral terbuka. Dengan begitu visi utama dari moral terbuka bisa menjadi lebih efektif karena ditafsirkan melalui peran rasio dan dikaitkan dengan kewajiban. Di sisi lain moral tertutup juga mendapat gairah kehidupan dari moral terbuka.

Searah juga dengan moral terbuka dan moral tertutup, agama yang dibedakan Bergson menjadi agama statis dan agama dinamis. Agama statis dimaksudkan sebagai reaksi terhadap pengaruh negatif dari akal budi, baik bagi masyarakat maupun individu. Agama statis ini sekaligus menandakan tampilan masyarakat primitif, karena didalam keberlangsungan kehidupan dan kebudayaan agama statis masih terkandung mentalitas primitif.

Bergson memberikan contoh kasus terkait tampilan agama statis seperti berikut. Jikalau didalam perang modern kedua kelompok yang berperang sama-sama percaya bahwa Allah memihak pada mereka. Disini menurutnya masih terdapat pandangan agama statis karena dengan alasan: sebab mereka memperlakukan Allah sebagai dewa nasional, walaupun keduanya mengaku bertakwa kepada Allah. Artinya keduanya menampilkan sebuah pola berpikir yang salah ketika berkaitan dengan kehadiran Allah "pemikiran primitif".

Terkait agama dinamis, menurut Bergson mistik adalah agama dinamis. Karena para mistisi berusaha dengan usaha kreatif yang berasal dari Allah atau bisa juga hampir sama dengan keinginan Allah. Latar belakang pemikirannya ini dipelajari pada agama Yunani, Mistik Timur dan Mistik Kristen. 


Bergson berpendapat bahwa dalam agama Kristen mistik telah mencapai bentuk yang paling lengkap karena mistik disertai dengan aktivitas dan kreativitas. Selebihnya menurut Bergson, miistik yang berbalik dari dunia supaya mempersatukan diri dengan wujud ilahi bukanlah suatu mistik yang dikatakan lengkap.

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel