Pertanyaan-Pertanyaan Berantai yang Memalukan

Cara pandang dan pemikiran yang ada dalam sosial kemasyarakatan terbentuk karena adanya peristiwa, kebiasaan yang di tradisikan hingga mengikat menjadi budaya yang di pegang teguh oleh masyarakat. Namun dibalik itu ada juga kebiasaan yang telah membudaya namun bernilai buruk dan dipertahankan meskipun sebenarnya kita "masyarakat" paham bahwa itu tidaklah begitu baik. Semisalnya kebiasaan menanyakan persoalan privat orang dan terkadang ditanya di khalayak umum "publik".

Pertanyaan pertama ialah Kapan bekerja atau bekerja dimana ?

Pertanyaan ini selalu ditanyakan ketika selesai dari bangku kuliah, dan pertanyaan ini saya anggap sebagai pertanyaan yang positivis karena selalu mengandung makna kerja pada tempat yang formal, semisalnya, Pegawai Perusahaan swasta dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN) atau setidaknya Damkar, Satpol-PP. Sebab jikalau anda kerja namun tidak pada apa yang berada dalam pengertian si penanya maka anda tidak dianggap telah bekerja "pengangguran" dan momen terburuknya ialah sebagian orang akan mengeluarkan kesimpulan yang cenderung negatif walaupun itu pandangan subjektif yang belum tentu benar.

Hal ini menurut saya diakibatkan karena faktor ruang lingkup "daerah" yang sempit sehingga patokan kerja yang layak hanya pada instansi-instansi formal atau diakibatkan pada stigmatisasi jabatan dan seragam dinas yang telah mengakar menjulang kedalam inti kehidupan sosial masyarakat. Padahal jika kerja dilihat dari persoalan ekonomi maka Tukang Angkat Sampah, Tukang Sapu Jalanan, Supir Angkot, Abang Ojek Pangkalan dan Pekerja Borongan Bangunan juga seharusnya dianggap kerja karena mendapatkan gaji perbulan maupun perminggu. Artinya bukanlah pengangguran, maka sudah semestinya mereka dihormati pilihannya dan dihargai kehadirannya.

Menurut saya pengertian pengangguran ini haruslah didudukkan secara jelas dulu kemudian bisa di soalkan, sehingga anggapan dan pandangan yang sebenarnya menyudutkan pekerja tertentu dan dapat melunturkan prinsip etis dalam kehidupan sosial ini. Tidak salah memandang atau men-judge pihak-pihak yang kerja diluar wilayah formal dapat diakui kerjanya.

Sekarang mari kita lihat pengangguran dalam pengertian Wikipedia. "Pengangguran atau tunakarya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak".

Nah sekarang jelas dan dapat dilihat bahwa pengangguran hanyalah orang-orang yang tidak bekerja sama sekali atau setidaknya bekerja lebih dari dua hari seminggu. Maka dapat dilihat bahwa kategori pengangguran tidak termasuk pada jenis-jenis kerja yang saya sebutkan di atas.

Dengan kenyataan ini maka stigma sosial yang ada pada masyarakat seharusnya di dekonstruksi kembali sehingga tidak dapat mencederai prinsip etis dalam kehidupan sosial. Dengan kata lain tidak menyinggung hak-hak individu untuk bekerja di mana dan seperti apa kerjanya.

Pertanyaan kedua ialah Kapan Menikah ?

Pertanyaan yang tidak jauh berbeda dari pertanyaan pertama karena ini adalah pertanyaan lanjutan setelah anda berhasil bekerja sebagai PNS atau Pegawai Perusahaan. Sebab bagi sebagian orang pemuda-pemudi yang telah berusia 25 sampai 30 tahun atau setidaknya telah selesai menempuh studi perguruan tinggi "Wisuda" dan telah memiliki pekerjaan yang telah di anggap mapan. Maka seyogyanya harus telah menikah. Pertanyaan ini dapat diasumsikan kehadirannya karena pandangan agama yang dianut oleh masyarakat di daerah tertentu. Semisalnya dalam pandangan Islam yang mengharuskan pemuda-pemudi yang telah balik (dewasa) untuk menikah demi menjaga perbuatan zina dan lainnya. Terlebih pandangan ini dikuatkan dengan banyak Sunnah Rasulullah Saw salah satunya berbunyi.

"Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah kepada Allah SWT dan pada separuh lainnya"
. (HR. Al Baihaqi)

Atau dikarenakan faktor ikut-ikutan, ketika melihat seorang temannya telah menikah dan harmonis maka timbul perasaan yang menggelisahkan jiwa bagi sebagian pemuda pemudi untuk cepat menikah walaupun tidak ada kemampuan dan kesiapan. Faktor inilah yang harus dihindari karena bisa berdampak buruk karena terburu-buru. Padahal Rasulullah Saw pernah bersabda.

"Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah. Karena menikah menundukkan pandangan dan membentengi Fajri (kemaluan) dan barangsiapa yang tidak mampu maka hendaklah ia Shaum "puasa" karena puasa dapat membentengi dirinya". (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).

Maka menurut saya, tidak ada yang salah dengan pertanyaan ini namun semestinya ditanyakan pada wilayah privat bukannya di wilayah publik. Terkait persoalan menikah adalah persoalan yang berada pada wilayah privat, meskipun begitu dapat dipertanyakan oleh orang tertentu dan pada ruang yang lebih baik "empat mata". Sebab pertanyaan seperti dapat melukai hati yang ditanyai jika tidak pada tempatnya. Bagi saya manusia "pemuda-pemudi" cukuplah berikhtiar mencari pasangan hidup dan berniat merencanakan pernikahan. Terkait persoalan ketetapan hati untuk menikah cepat atau lambat dikembalikan dan diharapkan Kun fayakun dari Allah SWT.

Sebab Allah SWT pernah berfirman:

"Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap".(QS. Al-Insyrah: 8)

Pertanyaan ketiga, kapan punya anak ?

Pertanyaan ini selalu disodorkan bagi pengantin muda dan pengantin lama atau pasangan yang telah lama menikah namun belum dikaruniai anak. Bagi pasangan muda atau pasangan lama, pertanyaan ini mungkin bisa ditanggapi dengan jawaban politis seperti, iya sedang diusahakan. Namun sekali lagi pertanyaan seperti dapat menggoyahkan Istiqomah dari pasangan suami istri yang ditanyakan, siapa yang tahu dibalik tembok rumahnya mereka bertengkar saling menyalahkan. Maka pertanyaan ini semestinya tidak dipertanyakan. Karena bagi saya siapa atau pasangan manakah yang tidak mengharapkan seorang buah hati.


Menurut saya, sebagai manusia yang hidup dengan bersosialisasi maka sudah tentu harus memiliki kepekaan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang menghujam sanubari seperti itu. Saya berkata demikian karena saya pernah memiliki pengalaman melihat sepasang suami istri yang ditanyai perihal anak, seketika istrinya tertunduk malu dan suaminya melempar jawaban bersama senyum yang terlihat dipaksakan. Betapa memalukannya basa basi yang tertanam dalam sosial kita saat ini.

Inti dari uraian diatas ialah menempatkan pertanyaan-pertanyaan yang tergolong dalam wilayah privat diatas juga harus dengan cara privat demi menjaga kenyamanan orang yang ditanyakan. Sebab pengalaman telah menjawab bahwa telah banyak orang yang malu, berselisih paham bahkan setingkat berkelahi karena tidak terima disodorkan pertanyaan seperti di atas. Terimakasih

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel