Pengertian Filsafat Pragmatisme Menurut Charles Sanders Peirce

Bagi penggiat filsafat Pragmatisme yang terkenal diterapkan di Amerika di era sekarang dan seorang pecinta matematika. Tentunya tidak asing dengan seorang yang bernama Charles Sanders Peirce. Charles Sanders Peirce sendiri merupakan seorang filsuf, ahli logika, semiotika dan matematika. Lahir di Cambridge pada 10 November 1839 dan meninggal pada 19 April 1914. Memiliki nama besar sebagai penemu filsafat pragmatisme dan merupakan salah satu Pioner dalam Logika matematika di abad ke-19. yang kemudian membuat dirinya begitu dihormati sampai sekarang.

Salah satu bentuk kalimat penghormatan yang jatuh untuknya, datang dari filsuf Paul Weis yang mengatakan bahwa Peirce "merupakan Filsuf Amerika paling orisinal dan berwarna dan logikawan terbesar di Amerika" (1934). Pemikirannya tentang filsafat pragmatisme atau filsafat bertindak dapat dilihat dari pemikirannya yang mengatakan bahwa, "suatu hipotesa dianggap benar apabila mendatangkan manfaat".

Pada umumnya Pragmatisme dalam Filsafat Kontemporer : Dalam bidang ilmu, pemikiran Charles Sanders Peirce merupakan suatu hal yang mendasar bagi saja yang berminat mengkaji Islam, akar pemikiran studi agama yang terkandung dalam siapa pemikiran Peirce. Dikenal sebagai perintis dan tokoh utama aliran filsafat pragmatisme. Pierce juga termasuk salah satu pioner dalam logika matematika abad ke-19.

Profesional, ia adalah seorang ilmuwan Praktisi ahli geodesi, astronomi, dan kimia. Epistemologi Peirce berlatar belakang pragmatis dan ahli logika, epistemologinya banyak disampaikan melalui logikanya, oleh karenanya epistemologi Peirce digolongkan sebagai epistemologi kontemporer. Peirce dengan Filsafat pragmatisme ( filsafat bertindak ), memandang bahwa ; suatu hipotesa dianggap benar apabila ada manfaat. Pragmatisme dikatagorikan dalam teori kebenaran. Peirce membagi kebenaran menjadi dua, yakni kebenaran transendental dan kebenaran kompleks. Kebenaran terdiri dari kebenaran etis (psikologis) yaitu keselarasan pernyataan dengan apa yang diyakini oleh pembicara, dan kebenaran logika ( literal ) yaitu keselarasan pernyataan dengan realitas yang didefinisikan.

Pada dasarnya Peirce mencoba mensintesis rasionalisme yang melekat pada logika dan matematika dengan empirisme objektif, sedangkan James berjuang untuk menggabungkan subjektivisme yang terdapat dalam individualisme dirinya dengan empirisme - empirisme objektif. Apabila James dengan gaya retorika yang khas menyatakan bahwa “kebenaran adalah apa yang dikerjakan” dan “yang benar adalah mengarah pada tujuan”, Peirce justru membuka pragmatisme untuk dibawa menjadi filosofi tentang tujuan itu sendiri. Peirce mengabdikan dirinya pada perkembangan metode inkuiri yang dapat digunakan verifikasi kebenaran umum secara meluas.

Pemikiran Peirce yang patut direnungkan antara lain adalah “apa yang dimaksud dengan kebenaran”. Peirce yakin bahwa kebenaran yang hakiki adalah kebenaran menurut fakta bukan menurut opini. Kebenaran menurut opini sangat tergantung dari apa yang disepakati oleh orang yang membuat opini, sedangkan kebenaran menurut fakta adalah nyata adanya.


Dari penegasan Peirce di atas, dapat dipahami bahwa ia menolak kesimpulan suatu kebenaran atas dasar seseorang atau kelompok, karena pada prinsipnya realita bersifat bebas dari opini. Realita, menurut Peirce berjalan menurut hukum reguler yang mengatur hubungan antara objek-objek yang ada.

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel