Memahami Filsafat Dari Eksistensi Manusia Dan Konsep Kebudayaan

Filsafat menurut bahasa berasal dari bahasa Yunani (Greace) dan dari suku kata yaitu, Pilos (cinta), Sophos berarti Cinta Kebijaksanaan, atau dalam bahasannya Arab Mahabul Hikmah pecinta ilmu pengetahuan. Filsafat menurut istilah ialah keingintahuan dengan mendalam ( cinta pada dunia ). Dalam hal ini, Filsuf Phytagoras, mengatakan bahwa pengetahuan dalam artinya yang lengkap tidak sesuai untuk manusia. 

Setiap orang akan mengalami kesukaran-kesukaran dalam memperolehnya, dan meskipun sepanjang umurnya, namun ia tidak akan mencapai tepinya. Jadi pengetahuan adalah perkara yang kita cari dan kita ambil sebagian darinya tanpa mencakup keseluruhannya. Maka dapat dipahami bahwa kita bukan ahli pengetahuan, melainkan pencari dan pencinta pengetahuan.

Nah Secara istilah, mengutip pendapat Muhtar Yahya, "Bahwa berfikir filsafat adalah berpikir yang sedalam-dalamnya dan bebas dengan teliti serta bertujuan hanya mencari hakikat kebenaran tentang alam semesta, alam manusia dan dibalik alam”.

Harus diakui jika sebagian orang awam, melihat Filsafat dengan sinis dan sering kali dianggap sebagai suatu ilmu yang tidak dipahami peruntukkannya. Padahal bila ditilik lebih lanjut, filsafat memberikan banyak hal positif bagi manusia. Sebagai ilmu yang mengarahkan cara berpikir dan menggali pemikiran serta konsep yang abstrak, Filsafat dapat menawarkan pemikiran kritis yang dapat dilanjutkan dengan eksperimen atau memberi pemaknaan baru bagi manusia dalam menyikap hal-hal yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari.

Maka untuk menanggapi hal itu, dan menyadari bahwa adanya ketertarikan masyarakat awam dalam mendalami kelas filsafat, sudah semestinya kita berusaha dan berharap dapat memberi pemahaman dan pemaknaan baru pada para orang-orang tentang manusia dan eksistensi kita di dunia.

Sebab memberi perspektif tentang konsep manusia dari kajian filsafati dan perspektif budaya sangatlah penting dibalik pertemuan keharmonisan keduanya dalam kehidupan, hal dasar dapat kita mulai dari upaya menjelaskan konsep-konsep tertentu untuk melengkapi pengetahuan tentang apa itu “manusia”. Dan bisa menggunakan konsep yang dituturkan oleh Heidegger seorang filsuf Jerman. Baginya manusia memiliki kesadaran yang lebih tinggi dari pada makhluk lainnya. Dengan akal budi, kita menyadari bahwa kita “ada” dan hidup.

Disisi lain kita dapat membahas tentang manusia dengan mengutarakan beberapa nilai moral yang bisa dipetik oleh kita. Dimana “Tuhan menciptakan manusia itu sejak awal berbeda, jadi kita sebagai manusia harusnya sadar bahwa kita hidup di dalam perbedaan. Karena itu, toleransi juga sudah seharusnya menjadi sikap alamiah kita. Kalaupun bukan, itu adalah tindakan yang paling tepat untuk menyikapi keadaan alamiah kita sebagai individu yang berbeda,”

Terlebih mempelajari budaya dan manusia adalah salah satu cara mengapresiasi dan memahami Tuhan. dan filsafat dapat menjangkau itu karena sangat menarik ketika kita mempelajari manusia itu tidak cuma mengarang bebas belaka, tapi kita juga mempelajari dan memaknai kenapa Tuhan menciptakan kita di dunia ini secara kritis.

Kita juga akan menemukan pengertian yang terungkap yaitu, filsafat tidaklah bertentangan dengan teologi, justru filsafat adalah salah satu jembatan awal yang dapat digunakan guna memahami ciptaan Tuhan nantinya lewat ilmu lain.


Terkait upaya di atas, jikalau dapat diaplikasikan dalam keseharian kita menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang manusia yang baik dengan pedoman kemanusiaan dan kebudayaan, maka tentu filsafat akan menjadi jembatan paling efektif untuk menjangkau konsep ketuhanan.

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel