Prosesi Adat Khatam Qur’an Hia Fai di Desa Waitina, Kepulauan Sula

Prosesi Adat Khatam Qur’an Hia Fai (Khatam Quran Satu Negeri) Desa Waitina, Kecamatan, Mangoli Timur, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara. Prosesi adat Khatam Qur’an Hia Fai adalah salah satu prosesi adat yang dilaksanakan sekali dalam setahun, dimana prosesi adat ini diawali dengan menyambut bulan suci Ramadhan. Rangkaian adat tersebut pada saat malam 1 hari sebelum bulan Romadhan di waktu selesai sholat subuh sekitar jam 7 pagi Enam orang kepala Umasoa yang terdiri dari Matougu Umasangadji, Matougu Titdoy, Manyira Umawaitina, Matougu Lumbessy, Manyira Liambana, dan Matougu Liamanu mendatangi Sangaji (Selaku Kepala Desa) di rumah adat, dan dilanjutkan ke Juguru Imam (Imam Desa) oleh Empat Kepala Umasoa (Bobato Gadia) untuk memberitahukan bahwa mulai sore hari nanti bulan (Hilal) sudah muncul dan Malam hari sudah melaksanakan Sholat Tarawe. 


Sah Ari - Sore harinya setelah sholat Ashar Matougu Umasangadji dan Liamanu lebih duluan mendatangi Sangaji di rumah adat untuk melayani kedatangan Empat Kepala Umasaoa yang disebut dengan Bobato Gadia yang terdiri dan Matougu Titdoy, Manyira Umawaitina, Matougu Lumbessy, dan Manyira Liambana dan seorang Moding (mengenakan pakaian adat) untuk memberitahukan kepada Sangaji bahwa kami telah diperinah oleh Juguru Imam dan Khalifa Khotib untuk memberitahukan sore ini juga Kita sama-sama (Dodola) menuju ke Masjid untuk menyaksikan tabur beduk (Tatabuang) beberapa menit sebelum tiba waktu Sholat Magnib sebagai tanda Ramadhan telah tiba.

Sah Ari selanjutnya pada saat malam ke - 15 hari Ramadhan (puasa) yang disebut desngan Malam Qunut, diwaktu setelah sholat Ashar itu juga Empat Kepala Umasoa (Bobato Gadia) bersama seorang Moding (mengenakan pakaian adat) mendatangi Sangaji untuk memberitahukan bahwa puasa (Ramadhan) sudah memasuki han ke-15 (malam qunut) dan pada malam hari sebelum waktu Sholat Taraweh salah satu dan Kepala Umasoa (Bobato Gadia) bersama seorang Moding dan Khatib menjemput (Dodola) Sangaji (juga mengenakan pakaian adat) untuk melaksanakan sholat taraweh secara berjama di Masjid.

Sah Ari berikutnya pada saat 27 hari bulan Ramadhan yaitu malam Lajitul Qadar (malam Ela-Ela). Mengawali prosesi Sah Ari malam ke-27 ini disore hari sekitar jam 03.00 Enam Kepala Umasoa masig-masing membawa I pohon Pisang (Daun Pisang sebagai payung di musim hujan maupun panas), 5 pohon Jagung (jagung sebagai makanan), dan 6 batang Tebu (Air Tebu kejernihan air ininum) dan kesemuanya itu adalah rasa syukur kepada Allah atas limpahan rejeki dan nikmatNya kepada masyarakat masing-masing umassoa (Ana Paka Umasoa) dari hasil tani tersebut akan di antar ke Sangaji di rumah adat. Kemudian prosesi Sah Arinya sama dengan pada saat 15 hari bulan atau malam qunut dan sebelum menjemput Sangaji ke Masjid (Dodola), dua orang moding atas perintah Juguru Imam dan Khalifah Khotib datang ke rumab adat untuk mengambil 2 batang lilin. (Toca= yang terbuat dan sarang lebah yang sudah dimasak) untuk di nyalakan pada saat sholat taraweh.

Diwaktu pagi dan sore hari (1 hari sebelum sholat Id) setelah sholat Ashar prosesi Sah Ari ke rumah adat yang terdiri dari Empat Kepala Umasoa atau Bobato Gadia untuk memberitahukan kepada Sangaji bahwa Ramadhan atau pelaksanaan ibadah Puasa telah memasuki hari ke  30, dan pada saat selesai sholat Subuh sekitar jam 06.30 dua orang Moding berjalan sambil kumandangkan Takbir mendatangi rumah para pemangku jabatan di desa untuk mengambil Salawat Gugoru yakni dalam bentuk uang dengan nilai yang tidak ditentukan (sukarela) yang ditaruh dengan piring kecil dan ditutupi dengan kain/lenso putih, setelah itu seorang khotib mendatangi Sangaji di rumah adat untuk mengambil Salawat Kolano.

Setelah Salawat Kolano sudah dibawah ke Masjid baru dilanjutkan dengan Sah An (jemput = Dodola) Sangaji untuk melaksanakan ibadah sholat Id di masjid oleh Manyira Liambana, Matougu Lembessy dan Moding bersama seorang Khotib atas perintah dan Juguru Imam dan Khalifah Khotib, dan mengawali sholat Id dengan Takbir bersama dan dilanjutkan dengan salawat Gugoru (seluruh jamah sholat Id, baik Laki-laki maupun perempuan)

Setelah sholat Id Sangaji berdiri dihadapan seluruh jama sholat Id untuk menyampaiakan
Ucapan Selamat Hari Raya dan permohonan maaf lahir dan batin. Kemudian dilanjutkan dengan
Musyawarah bersama (mufakat) di pandopo Masjid untuk menetapkan waktu Khatam Qur’an Hia
Fai (tadarus selama bulan ramadhan) yakni Juguru Imam menyerahkan Al-Qur’an berisi 30 JUZ
kepada Empat Orang Kepala Umasoa (Bobato Gadia) untuk melaksanakan prosesi Adat Khatam Hia
Fai.

Selesai musyawarah (mufakat) penetapan waktu pelaksanaan khatam Hia Fai, maka Matougu Liamanu selaku Orang Tua Angkat Sangaji (Sangaji In Baba) menutup musyawarah tersebut dan meminta kepada para jama h forum musyawarah untuk bersilahtuhrahim atau bersalaman dengan Sangaji di rumah Adat dan akan dilanjutkan ke rumah Juguru Imam, seluruh Staf Syarah, Matougu, Manyira dan seluruh jama yang ikut Musyawarah Adat dengan berjalan kaki.

Sebelum Puasa 6 han terhitung sejak 3 selesai Sholat Id, Enam kepala Umasoa mengadakan Musyawarah (mufakat) bersama warganya (Ana Paka Urnasoa) untuk mesnyampaikan hasil musyawarah diwaktu selesai Sholat Id (mufakat) sekaligus membagi alat dan bahan-bahan kebutuhan memasak di rumah Enam Kepala Umasoa tersebut.

Alat yang dibutuhkan adalah kayu bakar, batang pohon pinang sebagai tempat membakar nasi Jaha, bambu nasi jaha (tamela), daun kelapa kering untuk membakar nasi jaha, buah kelapa tua untuk pukat santannya buat masak nasi kuning dan nasi jaha, sayur mayur, merica, tomat, kunyit, guraka dan lain-lain yang semuanya dibagi secara merata termasuk harga 1 ekor sapi yang dimasak untuk dibawa ke Masjid.

Tepat waktu puasa 6 hari Mulai dan pagi seluruh masyarakat di desa waitina berbondong - bondong mendatangi rumah masing-masing Kepala umasoa dengan membawa alat dan bahan yang sudah disepakati bersama dan pekerjaannya pun di bagi oleh seorang yang di tunjuk oleh Kepala Umasoa untuk mengatur dan membagi pekerjaan sehingga tidak ada yang merasa pekenjaannya melebihi saudara yang lain.

Waktu sudah menunjukan jam 12 siang dan makanan pun sudah siap maka seluruh warga umasoa (Ana Paka Umasoa) secara bersama-sama menyantap hidangan makan slang yang disiapkan oleh Ibu-ibu. Selesai makan siang Lima Kepala Umasoa bertemu di rumah Matougu Umasangaji untuk menyetorkan uang harga I ekor sapi yang dikumpulkan oleh masing-masing warga umasoa dan Matougu Umasangaji pergi membayar harga sapi tersebut kepada pemiliknya.

Waktu semakin sore dan Babato Gadia mendatangi Sangaji untuk memberitahukan bahwa sebentar malam prosesi Khatam Qur’an Hia Fai akan dilaksanakan. Kemudian pada saat selesai sholat Isya Para Moding dan Khotib menyiapkan tempat pembacaan Amal tersebut, yakni mereka mendatangi rumah adat untuk mengambil Kosong baleta Meja Adat yang terdiri dan:

1. Taplak Meja (Langasa)
2. 30 Piring, sendok, gelas.
3. Lenso putih sebagai pengganti tisu makan (sarpet)
4. Tempat cuci tangan (Bastangan)
5. Tempat api untuk membakara manyian (Hitu Pon)
6. Tempat manyian
7. 2 batang him (Toca) yang terbuat dan sarang lebah yang dimasak
8. Air Sos-sos yaitu air yang di ambil di air tempayang Wai Banggo
9. Tempat pinang (Fahia Elu) yang berisi pinang, sin, kapur dan Tembakau.

Semua alat dan bahan di atas disiapkan oleh Matougu Liamanu, dan pada saat para Moding dan
Khotib datang mengambilnya Matougu Liamanu Iah yang menyerahkannya tetapi para Moding dan

Khotib hanya sebatas member salam dan berdiri di depan pintu dan tidak diperbolehkan masuk
kedalam rumah adat. Setelah Alat dan Bahan tersebut sudah di masjid, maka 2 orang Moding pergi ke Rumab Kepala Umasoa yang khusus membawa makanan secara bergantian setiap tahunnya yaitu Titdoy (Matougu) atau Umasoa Umawaitina (Manyira) untuk membawa Makanan adat yang disajikan di

Meja untuk segera dibawa ke masjid sebelum makanan dan Umasoa Iainnya di bawa ke masjid.
Setelah makanan meja adat sudah sampai dimasjid, maka para Moding pergi mendatangi rumah
Enam Umasoa untuk memberitahukan kepada para kepala Umasoa bahwa makannya sudah dibawa
ke masjid.

Setelah makanan sudah siap di masjid dan para tamu undangan yang disampaikan secara hisan oleh para Moding di waktu sore hari dengan bahasa yang mengundang adalah Bobato Gadi dan Juguru Imam. Dan para Tamu Undangan yang memasuki pandopo masjid wajib hukumnya untuk member salam Suba Jo kepada Juguru Imam selaku penerima tamu dan para Kepala Umasoa karena tempat duduk dalam pandopopun ditentukan oleh Juguru Imam.

Setelah makanan dan tamu undangan sudah hadir semua, Juguru Imam dan Khahifah Kahatib menyuruh beberapa Orang Moding dan 1 Orang Khatib bersama Manyira Liambana atau Matougu Lumbessy pengi ke rumah adat (Dodola) memberitahukan kepada Sangaji melalui Matougu Liamanu selaku Sangaji in Baba bahwa mereka disuruh oleh Juguru Imam dan Kahiifah Khotib bahwa Tamu Undangan sudab hadir untuk itu kami datang menjemput karena Prosesi pembacaan Amal Hia fai sudah siap dilaksanakan.

Saat Sangaji tiba di Masjid memberi Salam (Suba) kepacla JugurU Imam dan seluruh Jama tamu undangan Jangsung duduk di tempat yang sudah dietntuka dan dilanjutkan dengan pembagian. air sos-sos yang dibawakan oleh para moding kepada seluruh yang hadir termasuk Sangaji.

Setelah itu Juguru Imam mempersilahkan para Tamu Undangan untuk memasuki ruangan Masjid (tempat pembacaan amal) dengan tempat duduk atau posisi yang ditentukan oleh para Moding dan prosesi pembacaan amal hia fai diawalai dengan Khotmil Qur’an setelaa itu dilanjutkan dengan pembacaan Kitab Karaman (bertuliskan huruf tulang atau huruf tandpa tanda baca) dan dilanjutkan dengan tahlilan dan doa selamat.

Selesai pembacaan amal, maka Juguru Imam meminta kepada para tamu undangan untuk beristirahat sejenak di pandopo masjid agar para pelayan dan setiap umasoa menyajikan makanan. Dan pada saat tamu undangan sudah beristrirahat di pandopo, maka di antara Matougu Titdoy atau Manyira Umawaitina yang bergiliran membawa makanan Adat yang disajikan dimeja tersebut dibawa ke rumah Adat dan disambut oleh Matougu Liamanu. Sesudah itu baru para pelayan umasoa sudah bias menyajikan makanan yang dikontrol oleh para Moding. Makana tersebut terdiri dan:

1. Nasi jaha yang berjumlah antara, 7, 9, 11 batang
2. Nasi kuning (kukusan)
3. Ikan (kena hodi)
4. Sirkaya telur ayam kampong
5. Kolak kacang merahlkajang ijo
6. Sayur terong (fokfoki paniki)
7. Kuah daging sapi dan kari 


Makanan di atas juga yang disajikan di Meja adat yang dibawa rumah Adat dan ditambah dengan:
1. Kue Berinji yang terbuat dan beras pulut yang diaduk dengan santan kelapa campur bawang goring
2. 4 buah kue yang terbuatdari telur ayam kampung, terigu gula dan lain-lain.
3. Kolak salon yang terbuat dan parutan pisang sepatu.

Setelah makanan sudah slap disajikan, maka Juguru Imam memberitahukan kepada seluruh tamu undangan untuk masuk kempabali ke tempat pembacaan amal seperti semula, dan ketika Tamu Undangan sudah duduk maka Sangaji mempersilahkan para tamu undangan untuk mencicipi Hidangan makanan adat yang disajikan dan Sangaji langsung berdiri dan beristrahat sejenak di pandopo.

Apabila tamu undangan sudah selesai makan maka dipersilahkan oleh Juguru Imam untuk beristrahat bersama Sangaji di pandopo masjid sambil menunggu pam pelayan umasoa mengantarkan makanan para tamu undangan ke rumah masing-masing, sesudah itu baru dilanjutkan dengan Musyawarah (mufakat) untuk saling mengoreksi jalannya prosesi adat amal khatan Hia Fal mulai dan awal menyambut l3ulan suci Ramadhan (puasa), Sholat Id, dan prosesi pembacaan amal Hia Fai. 

Seluruh rangkaian prosesi adat telah selesai dan Matougu Liamanu mempersilahkan Tamu Undangan untuk kembali ke rumah masing-masing deasngan do’a dan harapan semoga Allah SWT memanjangkan umur kita dan selalu sehat agar bias berkumpul ditahun yang akan datang.

Belum ada Komentar untuk "Prosesi Adat Khatam Qur’an Hia Fai di Desa Waitina, Kepulauan Sula"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel