Puisi Pendek - Diam Sejenak

Puisi Diam Sejenak - Hidup terus berjalan, langkah demi langkah terus terukir. Menulis sendiri bekas-bekas kaki sebagai cermin untuk mengenali diri.

Diam sejenak dalam ruang kontemplasi, tanpa kesunyian sebab sunyi menjelma dalam keributan berirama. Nada-nada kehidupan tetap nikmat untuk didengar, menantang akal, mendobrak energi, memicu naluri untuk menggapai makna cerita langit dan bumi.

Malam menjadi bahagia untuk diam, menyendiri di sudut dinding, meja tanpa kursi dan segelas kopi. Rasa berpadu dalam cangkir, melukis cerita-cerita lampau. Bukan pengaduan dan pengakuan sebab diam menjadi nikmat dalam sejenak dan manja menjadi ruang tersendiri untuk disalurkan.

Puisi Diam Sejenak


Pikiran bekerja keras memanjakan emosi liar
Pilihan-pilihan menanti resikonya
Menyesal ? hapus kata itu dari kitab kehidupan
Pejuang kehidupan menikmati suka dan sedih
Penyesalan menjadi pemandangan yang biasa

Diam sejenak dalam keributan kosong
Benturan-benturan ide omong kosong tanpa bukti
Unjuk diri di atas panggung emas
Menggaruk keuntungan diri sendiri
Tebar senyum, suarakan ide untuk waktu yang hampa

Semua menjadi gerak yang sama
Membanggakan imajinasi yang meludahi kenyataan
Menjadi tokoh-tokoh pemeran yang gelap
Seakan menjadi pahlawan kemanusiaan

Diam sejenak
Menikmati doa dan usaha
Menyerahkan keputusan kepada sang Khalik
Tak butuh pujian dan pengakuan
Biarlah semesta berseru
Menjadi manusia sesungguhnya
Sambil menikmati tingkah manusia-manusia hedon

Belum ada Komentar untuk "Puisi Pendek - Diam Sejenak"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel