Analisa Pengaruh Covid-19 Terhadap Kemiskinan di Indonesia

Secara umum, kemiskinan merupakan kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang yang tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan dan martabatnya. dan kondisi inilah yang sementara menjadi tantangan bagi negara di dunia, terutama di Indonesia yang memilki angka kemiskinan yang kian hari makin meninggi.

Sepanjang 2020 menuju 2021 harus diakui bahwa kondisi ekonomi Indonesia sepenuhnya belum pulih sebagaimana kondisi-kondisi sebelumnya. baik sebelum pandemi maupun pandemi. Data Tingkat kemiskinan adalah salah satu faktor pengkajian kondisi ekonomi tersebut, dan meskipun kondisi ini dapat dikatakan menurun yang dibuktikan dengan angka 10,19% di tahun 2020 menurun menjadi 10,14% di awal tahun 2021, akan tetapi angka ini masih sedikit lebih tinggi data di tahun 2019 sebelum pandemi yang berkisar 9,22%.

Nah maka dapat disimpulkan berdasarkan data di atas maka Pandemi menjadi salah satu faktor naiknya angka persenan kemiskinan di Indonesia. dan jika kita berupaya untuk menganalisis situasi di ekonomi ke depan maka faktor utama yang harus di lihat adalah kondisi Pandemi itu sendiri. misalnya sudahkah dapat diselesaikan? atau minimal sudahkah dapat di tangani atau dikendalikan?

Pertanyaan ini hanya dapat dijawab dengan melihat realita yang terlihat, dimana sejauh ini, Indonesia belum mampu mengendalikan pandemi sejak pertama kali diumumkan pada Maret 2020 kemarin yang sampai sekarang jumlah kasus harian yang dilaporkan terus meningkat sepanjang 2020 hingga 2021. dan dalam upaya untuk mengendalikan Pandemi, pemerintah dengan segenap upaya melakukan langkah seperti Menjaga jarak, Memakai Masker, Mencuci tangan, Menghindari kerumunan (4M) Karantina Mandiri, Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) namun terlihat bahwa kondisi kehidupan masyarakat Indonesia belum pulih dengan bermunculannya banyak varian baru dari Covi-19 itu sendiri.

Atas dasar keadaan tersebut dan pengendalian Pandemi yang masih belum terkoneksi dengan baik. Maka jelas salah satunya dampak bagi bangsa dan masyarakat adalah kondisi perekonomian Indonesia, artinya kemungkinan angka kemiskinan akan naik begitu sangat besar. dan sebenarnya Indonesia telah memasuki krisis sejak triwulan kedua 2020 kemarin, dan dua situasi yang melatarbelakangi ialah 

Pertama, semakin banyak populasi masyarakat yang terkena Covid-19, termasuk populasi produktif. maka jelas kondisi ini mengurangi kemampuan rumah tangga untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, terlebih rumah tangga yang terkena dampak langsung. 

Kedua, Pembatasan sosial yang diberlakukan pemerintah, dengan kata lain membuat perekonomian tidak berproses atau tidak terjadinya perputaran ekonomi sesuai kapasitas optimalnya di area-area kerja ekonomi tertentu.

Angka terkait krisis ekonomi itu dapat dilihat pada indikator pertumbuhan ekonomi yang pada 5 mei 2021 hanya tumbuh sebesar-0,74% di tiga bulan pertama. yang secara statistik lebih jauh rendah dari kondisi sebelum Pandemi berlangsung. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya longsoran struktur rumah tangga berstatus middle class (ekonomi menengah) turun menjadi vulnerable (rentan miskin) dan kelas atas (upper class menjadi menengah. Jadi apa kabar Poor class ?

Kondisi pelik ini tentunya dirasakan semua masyarakat baik dari kondisi apapun, maka pertanyaan selanjutnya apa yang dilakukan pemerintah? Pemerintah dalam perkara ini melakukan berbagai cara seperti mulai dari menggelontorkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan Sosial (Bansos), Bantuan Presiden (Banpres) dan yang digadang termuktahir adalah Prakerja. 

Namun sayangnya semua itu hanya bersifat sementara bagi penerima karena hanya melingkupi beberapa hari dalam kebutuhan rumah tangga. terlebih dari itu, tetap harus di apresiasi sebagai suatu upaya yang mendorong upaya selanjutnya.

Saya dalam hal ini lebih tertarik melihat dorongan pemerintah dalam mengefesiensikan kemampuan untuk mendapatkan penghasilan lewa jalur digital, dan langkah untuk melakukan vaksin ke area-arean pelosok. Namun lebih dari itu pemerintah harus siap melihat peluang pembukaan lapangan kerja yang hanya bukan ditujukan kepada masyarakat yang memiliki kemampuan atau pemahaman digital, melainkan juga kepada masyarakat yang hanya bisa bekerja di lapangan seperti pabrik, tambang dan pekerjaan fisik lainnya. 


Dan dengan begitu diharapkan kondisi perekonomian dapat membaik sehingga pertumbuhan ekonomi yang diperlihatkan lewat kesejahteraan masyarakat dapat tercapai dengan cepat dan baik walaupun dalam kondisi Pandemi. dan sebuah harapan untuk secepatnya Pandemi ini cepat berakhir.

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel