Pemikiran dan Penemuan seorang Blaise Pascal

Mengutip dari Wikipedia, Blaise Pascal berasal dari Prancis tepatnya lahir pada tanggal 19 Juni 1623 dan meninggal 19 Agustus 1662. Minat utamanya ialah filsafat dan agama, sedangkan hobi yang lainnya adalah matematika dan geometri protektif. Hasil yang dicapai ialah bersama dengan Pierre de Fermat, mereka menemukan teori tentang probabilitas.

Padahal awalnya minat riset dari Pascal lebih banyak berfokus ada bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan. Walaupun tidak memiliki pendidikan secara resmi, akan tetapi Pascal merupakan anak yang cerdas, karena terbukti di usianya yang ke 12 tahun telah berhasil membuat sebuah alat atau mesin menghitung untuk membantu pekerjaan ayahnya yang seorang petugas penagih pajak.

Pemikiran-pemikiran Blaise Pascal


Dalam tradisi intelektualnya, Pascal pernah mengemukakan proposisi yakni, Le Coeur a ses raison ne connait point ( hati mempunyai alasan-alasan yang tidak dimengerti oleh rasio ). Adalah ungkapan Pascal yang sangat terkenal dan dari pernyataan ini Pascal tidak bermaksud menunjukkan bahwa rasio dan hati itu bertentangan. Akan tetapi bagi Pascal, rasio atau akal manusia tidak akan sanggup untuk memahami semua hal, maka menurutnya, hati atau Le Coeur dari manusia jauh lebih penting ketimbang rasio atau akal.

Hati yang dimaksudkan oleh Pascal tidak semata-mata berarti emosi. Lebihnya hati adalah pusat dari segala aktivitas jiwa manusia yang mampu menangkap sesuatu secara spontan dan intuitif. Sedangkan rasio manusia hanya mampu membuat manusia memahami kebenaran-kebenaran matematis dan ilmu alam. Sebaliknya ketika manusia memakai hati, manusia akan mampu memahami apa yang lebih jauh daripada itu yakni pengetahuan tentang Allah.

Kebenaran yang dimaksudkan tidak hanya diketahui oleh akal saja tetapi juga dengan hati, bahkan menurut Pascal untuk dapat mengenal Allah secara langsung manusia harus menggunakan hatinya. Sebenarnya Pascal hendak menegaskan bahwa rasio manusia itu memiliki batas sedangkan iman tidak terbatas.

Argumen atau hipotesis berikut yang tak kalah penting ialah Le Pari, dimana Pascal meletakkan dasar untuk modern teori probabilitas, dirumuskan apa yang kemudian dikenal sebagai prinsip Pascal dari tekanan, dan disebarkan doktrin agama yang mengajarkan pengalaman Allah melalui jantung dari pada melalui alasan. Pembentukan prinsip intuisionisme berdampak pada filsuf kemudian seperti Jean-Jacques Rousseau dan Henri Bergson dan juga pada Eksistensialis.

Le Pari atau Pertaruhan adalah argumen Pascal lainnya yang terkenal. Gagasan ini terkait dengan persoalan mengenai ada tidaknya Allah dalam sejarah filsafat. Terlebih ada orang-orang skeptis yang kerap kali mencemooh orang-orang Kristen yang percaya bahwa Allah itu ada sementara mereka sendiri tidak dapat membuktikan secara rasional bahwa Allah itu tidak ada. Ia kemudian membuat sebuah pertaruhan mengenai ada atau tidaknya Allah.

Terkait perihal ini, Pascal pada khususnya mengambil posisi sebagai orang yang percaya akan adanya Allah. Alasannya, bila ternyata Allah memang ada, orang-orang yang percaya kepada Allah akan menang dan hidup berbahagia bersama Allah yang di Imani di surga kelak. Sementara misalnya ternyata Allah memang tidak ada dan orang-orang percaya kalah maka mereka tidak akan menderita kerugian apa pun. Hidup baik yang telah mereka jalani selama berada di dunia sudah merupakan keutamaan yang membuat kehidupan mereka dan orang lain bahagia.

Sebaliknya, bagi orang-orang tidak percaya, apalagi yang hidup seturut kehendak mereka sendiri, bila ternyata Allah tidak ada, selama hidup mereka merugikan orang lain dengan Keserumitannya mereka. Sementara bila ternyata Allah ada, mereka akan dihukum dalam neraka karena selain tidak mempercayai Allah, hidup mereka pun jauh dari menyenangkan hati Allah. Konklusinya menurut Pascal adalah lebih baik percaya pada Allah ketimbang tidak percaya kepada Allah sama sekali.

Penemuan-penemuan Pascal



Pascal dalam perkembangan temuannya sebagai seorang pemuda yang sangat sukses di dunia matematika, jelas menimbulkan kecemburuan yang tidak kurang dari seorang tokoh Rasionalis dan matematika Prancis yang hebat dari Rene Descartes.

Lebih lanjut, terkait penemuannya jelas bahwa penemuan pertamanya ialah mesin hitung untuk ayahnya. Dan temuan berikutnya, bersama dengan teman baiknya bernama Fermat, Pascal berhasil merumuskan teori probabilitas, yang dalam perkembangannya teori ini menjadi dasar ilmu dalam menghitung risiko asuransi dan statistik.

Penemuan berikut adalah teori segi tiga Pascal digunakan untuk menghitung pola bilangan yang tersusun membentuk sebuah segi tiga tertentu. dimana di usia 16 tahun telah menemukan bunyi titik-titik singgung pada sisi-sisi sebuah segi enam kerucut yang terletak pada satu titik. Penemuan Teorema dasar pada bidang geometri proyektif di kemudian hari.

Blaise Pascal juga berhasil merancang bangunan segi enam atau hexagram, dan menemukan prinsip kerja barometer (alat pengukur tekanan udara) yang juga berpengaruh pada sistem kerja dari arloji dan sampai terlibat dalam pembuatan sistem transportasi bawah tanah kota Paris.

Terakhir penemuan lainnya antara tahun 1642 dan 1644, Pascal menyusun dan membuat alat penghitung, Pascaline, untuk membantu ayahnya yang pada tahun 1639 telah ditunjuk sebagai intentant ( administrator lokal ) di Rouen dalam perhitungan pajaknya. The Mesin dianggap oleh sezaman Pascal sebagai klaim utamanya untuk ketenaran, dan dengan alasan, dalam arti itu adalah digital pertama kalkulator karena dioperasikan oleh menghitung bilangan bulat. 


Pentingnya kontribusi ini menjelaskan kebanggaan kaum muda yang muncul dalam dedikasinya atas mesin tersebut kepada kanselir Prancis, Pierre Seguier, pada tahun 1644. Demikianlah pemikiran dan penemuan dari Blaise Pascal.

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel