Melihat Relasi antara Manusia dan Agama dari Kacamata Filsafat Islam

Kata filsafat dalam filsafat Islam sendiri pada dasarnya di adopsi dari bahasa Yunani, Philosophy yang artinya orang yang mencintai kebijaksanaan atau pengetahuan. Kata ini kemudian ditransliterasikan ke dalam bahasa Arab, yakni kata Falsafah.

Kehadiran filsafat Islam di dalam eksistensi manusia dan agama secara keseluruhan bertujuan untuk menjelaskan awal dan akhirnya dari kehidupan manusia. Dalam kaitannya dengan proses pendidikan intelektual filsafat Islam, antara agama dan kemanusiaan sesungguhnya tidak dapat dipisahkan hubungan keduanya, dan hubungan keduanya ialah kesatuan persepsi manusia dan fitrahnya itu sendiri.

Selebihnya, harus diakui bahwa filsafat tidak hanya pengertian teknis atau sekedar kritis, tetapi harus pula disertai paradigmatik, sebab filsafat merupakan sebuah realitas manusia itu sendiri yang mempunyai tingkatan persepsi yang multi dimensi, maka tanpa informasi kriteria tentang berfilsafat, sejatinya manusia telah berfilsafat. Termasuk di antaranya manusia yang menolak filsafat, karena penolakan terhadap filsafat sesungguhnya adalah sebuah penistaan atas kemanusiaannya sendiri.

Kata filsafat di dalam tubuh filsafat Islam dikenal dengan makna Hikmah, Arif atau Mengetahui. Namun bukan berarti meniadakan identitas spesifikasi atau khasnya filsafat Islam, sehingga dapat dimengerti bahwa semestinya klaim kemanusiaan kita itu bisa dilihat nilainya ada cinta persaudaraan sesama manusia. Demikian pula sebaliknya klaim beragama harusnya juga dipahami tujuannya untuk mendatangkan hubungan persaudaraan berlandaskan persamaan derajat, baik perempuan maupun laki-laki di atas segala atribut Suku, Ras Budaya dan Agama sebagai norma dan hukum sunnatullah yang mutlak

Selanjutnya, relasi agama dan kemanusiaan tidak hanya dilihat pada sebuah kesatuan struktur, akan tetapi hal yang lebih urgen adalah kesatuan sistem pemikiran, karena problem yang dihadapi manusia saat ini yakni kegagalan menyamakan persepsi dengan dalil agamanya karena keharusan mengikuti ideologi maupun budaya baru yang tidak terlepas oleh dasar epistemik kemanusiaan. 

Dengan kata lain, pengetahuan mesti dilihat dalam kerangka teoritis dan praktis, bila tidak begitu maka manusia akan tercebur ke dalam kubangan pragmatisme moral, sementara nilai moral Islam bersifat teresendensi secara absolut karena subtansi dari Islam ialah kemanusiaan dan agama.

Pemahaman ini perlu diperhatikan dalam paradigma umat Islam atau orang yang belajar tentang filsafat Islam. Sebab kenyataannya saat ini begitu banyak yang mendeklarasikan dirinya beragama namun tindakannya tidak benar. Fakta inilah yang harus di akui bahwa bukan sebuah keniscayaan tetap terbukanya ruang kemungkinan dan kemungkinan untuk dapat dirubah apabila sepanjang masih ada yang bersandar pada nilai Islam. 

Dan sebaliknya bila masih ada yang bersandar pada keabsolutannya sendiri maka akan ada praktek agama yang menyimpang dari kemanusiaan karena minimnya pemahaman atas agama sehingga terjadilah kekeliruan dalam kehidupan manusia.


Demikianlah penjelasan singkat tentang bagaimana relasi agama dan kemanusiaan bersama memberikan informasi kepada setiap orang lewat kajian filsafat Islam dan sekaligus memperlihatkan bagaimana dialektika dari filsafat Islam.

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel