Garis Besar buku Santo Agustinus, Confessions dan City of God

Santo Agustinus adalah seorang filsuf dan juga teolog Kristen yang lahir di Tegaster Algeria, Afrika Utara pada 13 November 345 M, dan meninggal pada 28 Agustus 430 M.

Santo Agustinus menempuh pendidikan dan penentuan karir pertama kali di bidang filsafat dan retorika yang merupakan ilmu tentang seni persuasif dan berbicara didepan publik. Santo Agustinus kemudian menjadi pengajar di Tegaster dan Karthago, namun dibalik itu dirinya sangatlah menginginkan untuk dapat pergi ke Roma, karena bagi dirinya Roma merupakan tempat berkumpulnya orang-orang ahli retorika yang cerdas dan handal. Belakang ia baru menyadari bahwa dirinya tidak dibiayai untuk pergi ke Roma.

Karya terbesarnya adalah buku yang berjudul Confessions yang terbit tahun 379 dan buku City of God. Dari kedua karyanya inilah yang menjadi karya klasik dalam Filsafat Agama dan Doktrin ajaran Kristen.

Dalam karya yang berjudul Confessions yang berbentuk Otobiografi atau Pengakuan Agustinus yang berjumlah 13 jilid buku dengan berbahasa latin itu. Santo Agustinus berupaya menuliskan isi penyesalannya atas kehidupannya yang penuh dosa dan amoral serta menemukan kesadaran tentang keburukan dirinya ketika mengikuti agama, Manichaean dan tidak meyakini astrologi serta menguraikan pemahamannya secara signifikan tentang arti pentingnya moralitas.

Dalam karya City of God (kota tuhan) yang terbagi dalam 22 buku, Santo Agustinus membaginya dengan dua topik dalam beberapa buku, sepuluh buku khusus menjelaskan penentangan keyakinan pada agama-agama dan filsafat selain Kristiani. 

Dan dua belas buku lainnya khusus menjelaskan kembali sejarah manusia dari kelahiran sampai turunnya Wahyu dalam konflik antara apa yang Santo Agustinus sebut mereka yang hidup sesuai nilai-nilai kekristenan (City of God) dan City of Man (mereka yang menyimpang dari nilai-nilai kekristenan).

Esensi dari pemikiran Santo Agustinus ialah keyakinan bahwa hanya dari iman seseorang dapat memperoleh yang namanya kearifan. Santo Agustinus melihat agama dan filsafat sebagai pencarian terkait hal yang sama yaitu kebenaran. Baginya, filsuf tanpa agama tidak akan pernah mencapai kebenaran tertinggi. Walaupun nalar sekalipun hanya dapat mencapai sebagian dari kebenaran. Ia ingin membuktikan bahwa nalar bisa membuktikan kebenaran dari ajaran-ajaran agama, serta menurut Santo Agustinus pikiran rasional semestinya melayani agama.

Terlebih dari pemikIran seorang Santo Agustinus ialah mengenai pengetahuan yang termasuk tema sentral dari keseluruhan pemikirannya. Seperti Plato yang mengatakan bahwa "Tugas manusia ialah memahami gejala dan kenyataan yang selalu berubah". 

Ia ingin memperjelas perbedaan dari penginderaan yang memberikan pandangan pada kita pandangan yang semu tentang suatu objek dengan kebenaran yang hakiki, yaitu kebenaran yang berada di luar pengamatan inderawi. Pandangan inilah yang mendasari Santo Agustinus, sebab objek yang diamati oleh pancaindera selalu berubah-ubah, demikian juga esensi dari objek tersebut.


 Demikianlah penjelasan singkat tentang pemikiran dari karya besar dari seorang filsuf agama (teologi Kristen) Santo Agustinus.

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel